Tampilkan postingan dengan label Legenda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Legenda. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 April 2014

7 Tempat Ritual Caleg Untuk Raih Kursi

Ada-ada saja kelakuan Caleg, mereka malah pergi semedi!


Tak lama lagi, rakyat Indonesia akan memilih lagi wakilnya. Tanggal 9 April 2014 dihelat sebagai gelaran Pemilihan Umum Legislatif. Ajang lima tahun –yang digembar-gemborkan sebagai pesta demokrasi rakyat ini, bakal diikuti 15 partai politik. Mereka akan berlomba-lomba menjadi wakil rakyat. Boleh jadi, ini juga akan jadi laga saling sikut, serobot, dan tohok demi memperebutkan 560 kursi parlemen yang tersedia dari Sabang hingga Merauke. Dan ujung dari semua kegiatan ini akan merujuk kepada satu kursi pamungkas di atas semua itu: Presiden RI.

Beragam cara dilakukan para Calon Legislatif [caleg] demi bisa meraih simpatisan. Misalnya pasang poster atau spanduk selfie di jalan-jalan protokol. Ada juga yang beriklan di beragam media elektronik. Yang berkocek tebal, tentu membuat konser akbar. Lengkap dengan suguhan penyanyi dangdut hot dan atribut lainnya seperti baju, topi, bendera, dll.

Hmm.. tapi apa dengan cara itu saja mereka mampu menang? Menyewa jasa buzzer politik untuk berkicau di media sosial? Bisa saja, tapi pasti belum cukup. Baru-baru ini ada beberapa Caleg yang tertangkap basah sedang melakukan ritual di situs-situs keramat supaya bisa menang. Itu sah-sah saja. Toh belum ada regulasi yang menetapkan pelarangan minta bala bantuan para penghuni alam lain.

Tidak semua Caleg begitu, tentu saja. Dan data yang Ghibookumpulkan ini boleh jadi hanya seujung kuku dari seluruh situs yang biasa digunakan untuk kegiatan ziarah macam itu. Ini bukti bahwa kepercayaan animisme dan dinamisme yang dianut orang-orang zaman dulu, masih mengakar di masyarakat –yang katanya– modern ini. Well, berikut ini adalah 11 situs yang disinyalir menjadi lokasi ziarah dan persemedian para Caleg agar bisa lolos menjadi wakil rakyat: 

1. Kamar 308, Samudra Beach Hotel

Lokasi Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat

Penunggu Nyi Roro Kidul
Legenda Hotel yang didirikan tahun 1962 oleh mendiang Ir. Soekarno ini memiliki satu kamar yang tidak disewakan. Kamar 308.

Kabarnya ini adalah kamar yang digunakan sang Nyi Roro Kidul untuk beristirahat. Maka itu tidak disewakan. Kamar ini didominasi warna hijau dengan sebuah lukisan besar bergambar seorang perempuan yang dilukis mendiang Basoeki Abdullah.

Perempuan itu dipercaya sebagai wajah Nyi Roro Kidul. Para pengunjung hotel boleh memasuki ruangan ini dengan beberapa persyaratan dari hotel. Tidak boleh menyampah, membuat kegaduhan, dan tidak boleh lebih dari sejam berada di dalam kamar. Hal itu supaya tidak mengganggu pemiliknya.

Khusus untuk wanita, jika sedang datang bulan, dilarang masuk. Para peziarah yang datang pun terbiasa membawa hadiah berwarna hijau, warna favorit Sang Nyai.

2. Sanghyang Sirah

Lokasi Ujung Kulon

Penunggu Raden Kian Santang
Legenda Dalam bahasa Jawa, Sirahberarti kepala, sedangkan Sanghyang atau Sang Hyang berarti Tuhan. Sanghyang Sirah yang berada di pesisir paling Barat Pulau Jawa, dipercaya sebagai lokasi bersemayamnya petilasan Prabu Kian Santang, tokoh penyebar agama Islam di Jawa Barat yang sakti mandraguna.

Lokasi ini adalah petilasan ayahnya, Prabu Munding Wangi. Para peziarah biasanya mandi dengan air laut di tempat ini karena dianggap berkhasiat. Juga melakukan meditasi hingga berhari-hari serta membawa persembahan berupa kambing.

Mereka yang beritual bermaksud supaya keinginannya tercapai. Baik itu kekayaan atau jabatan. Ruski dan Pago, pembunuh Holly Angela Hayu Winanti pun sempat bersembunyi sembari membawa persembahan ke situs ini.

Keduanya memanjatkan doa supaya tidak tertangkap polisi. Sayang, ikhtiar mereka tak membuahkan hasil. Mereka tertangkap dan kini mendekam di penjara.

3. Makam Kerincing Wesi [Gatot Kaca]


Lokasi Watu Tumpeng, Lereng Merapi, Jawa Tengah

Penunggu Gatot Kaca
Legenda Di Lereng Merapi terdapat gundukan yang dipercaya sebagai makam dari Kerincing Wesi [Gatot Kaca]. Dia merupakan tokohsuperhero asli Jawa yang amat tersohor. Memiliki otot sekeras kawat baja dan tulang sekuat besi.

Ritual pesugihan di tempat ini amat jauh berbeda dengan lokasi lain, karena tidak meminta tumbal. Cukup dengan sesajen dan memanjatkan doa kepada Yang Maha Esa.

Dan jangan lupa juga, sebutkan nama Eyang Merapi [Raja Lelembut di Merapi] dan Kiai Sapu Jagad [Penunggu Kawah Merapi].

4. Makam Eyang Jugo dan Eyang Sujo

Makam Eyang Jugo dan Eyang Sujo
Lokasi Gunung Kawi, Jawa Timur

Penunggu Eyang Jugo dan Eyang Sujo
Legenda Lokasi pesugihan Gunung Kawi ini sudah tersohor se-Asia Tenggara. Di dalamnya ada dua makam yang paling dikeramatkan, yaitu makam Eyang Jugo dan Eyang Sujo.

Keduanya adalah anak buah Pangeran Diponegoro. Ritus kejawen biasa dilakukan pada Hari Jum’at Legi untuk memperingati wafatnya Eyang Jugo dan tanggal 12 bulan Suro saat hari wafatnya Eyang Sujo.

Para peziarah diharuskan dalam keadaan bersih dan membawa sesajen ketika datang. Kabarnya, ini adalah lokasi pesugihan paling ampuh jika ingin meminta kekayaan dan jabatan.

5. Makam Ir. Soekarno

Lokasi Blitar, Jawa Timur

Legenda Sejak dibuka pada tahun 1970, masyarakat berbondong-bondong berziarah ke makam ini. Mereka datang dari beragam kalangan. Ada sipil biasa, akademisi, hingga petinggi.

Tujuannya pun bermacam-macam. Ada yang sekadar ingin berwisata hingga bisa meminta jabatan. Yang paling menarik, Jokowi pun pernah berziarah ke makam Sang Proklamator pada Maret ini.

Namun Gubernur DKI ini menyangkal kalau ziarah itu dilakukan agar dirinya bisa jadi Presiden RI.

6. Sungai Tempuk

Lokasi Ngawi, Jawa Timur

Legenda Sungai ini dipercaya bisa mengabulkan permohonan siapa pun yang mandi sambil berdoa di dalamnya. Menurut berita, sebanyak 50 caleg tertangkap basah sedang melakukan ritual tersebut agar da[at lolos menjadi Anggota DPRD.

7. Jambe Pitu

Lokasi Gunung Mandalagiri, Cilacap, Jawa Tengah

Penunggu Leluhur Jawa
Legenda Jambe Pitu merupakan sebuah padepokan peninggalan mendiang Rama Diyat penasihat spiritual mendiang Soeharto. Pak Harto sering bermeditasi hingga menghabiskan waktu 3-5 hari di tempat ini.

Untuk menjangkau Jambe Pitu terbilang sulit, karena tak ada transportasi menuju situs itu. Peziarah harus melewati dua sungai, bebatauan terjal, dan deburan ombak yang deras.

Di padepokan ini ada sebuah pohon besar yang tidak boleh diambil daunnya, apalagi ditebang.

Rabu, 26 Maret 2014

Iskandar Zulkarnaen, Sang Raja Muslim Yang Saleh Dan Perkasa

Iskandar Zulkarnaen

Dialah Raja Muslim yang sangat berkuasa namun saleh. Daerah taklukannya membentang dari bumi bagian barat sampai timur. Ia mendapat julukan Iskandar “Zulkarnain”. “Zul”, artinya “memiliki”, Qarnain, artinya “Dua Tanduk”. Maksudnya, Iskandar yang memiliki kekuasaan antara timur dan barat.

Dia juga telah membangun dinding besar berteknologi tinggi untuk ukuran saat itu, diantara dua Gunung. Para ahli sejarah meyakini, dinding tersebut terbuat dari besi yang dicampur dengan tembaga itu terletak tepat di pengunungan Kaukasus. Daerah itu kini disebut Georgia, negara pecahan Uni Soviet.

Secara topografis, deretan pegunungan Kaukasus itu memang terlihat memanjang dari laut Hitam sampai ke laut Kaspia sepanjang 1.200 kilometer tanpa celah. Kecuali pada bagian kecil sempit yang disebut celah Darialsepanjang 100 Meter kurang lebih.

Pada bagian celah itulah Zulkarnain membangun tembok penghalang dari Ya’juj dan Ma’juj. Kisah ketokohan Iskandar Zulkarnain ini juga tertulis dalam catatan sejarah orang-orang barat. Dalam catatan tersebut diceritakan bagaimana ia berjaya meluaskan daerah taklukannya dalam masa yang sangat singkat.

Oleh karena kejayaannya ini, ia diberi gelar “Alexander The Great”, Alexander Yang Agung”. Belakangan cerita ini diadaptasi ke film layar lebar oleh Sutradara Amerika Serikat, Oliver Stone, dengan judul Alexander The Great. Namun cerita dari orang-orang barat tersebut sangat bertentangan dengan yang disebutkan dalam Al-Qur’an.

Para Mufasir menyatakan, “Alexander The Great” adalah orang yang berbeda dengan tokoh yang di tulis dalam Al-Qur’an, Yakni, Iskandar Zulkarnain. Alexander Thr Great itu dalam sejarahnya tidak diberitakan pernah membangun sebuah dinding besar berteknologi tinggi untuk ukuran saat itu, yang terbuat dari besi dicampur tembaga. Bahkan, ia adalah seorang musyrik. Sejarah tidak mencatatnya sebagai seorang Raja Muslim yang taat kepada agama Tauhid.

Sejarawan Muslim yang juga ahli tafsir, Ibnu Katsir, dalam kitabnya Al-Bidayah Wan Nihayah menjelaskan, meski punya nama yang sama dan plot cerita yang sama, yaitu kekuasaannya membentang dari Barat sampai ke Timur, keduanya adalah sosok yang berbeda. Antara mereka terbentang jarak dan waktu sampai 2000 tahun. “Hanya mereka yang tidak mengerti sejarah yang bisa terkecoh oleh identitas kedua orang itu,” katanya.

Ibnu Katsir lebih jauh menjelaskan, Zulkarnain adalah nama gelar atau julukan seorang penglima penakluk sekaligus Raja saleh. Karena kesalehannya ia selalu mengajak manusia untuk menyembah Allah. Namun mereka ingkar, malah memukul tanduknya – Qarnun,yaitu rambut kepala yang di ikat – sebelah kanan, hingga ia mati. Lalu Allah menghidupkannya kembali, dan ia pun kembali berdakwah. Tetapi sekali lagi tanduknya yang kiri dipukul, sehingga ia mati lagi. Allah Subhanahu Wa Ta`ala menghidupkannya kembali dan menjulukinya Zulkarnain, pemilik dua Tanduk, serta memberinya kekuasaan. Cerita yang sama juga di jumpai dalam kitab Jami Al-Bayan fi Tafsir Al-Qur’an, karangan Syekh Al-Aiji Asy-Syafi’i.

Dalam kitab tersebut disebutkan, Zulkarnain adalah seorang hamba yang taat kepada Allah Subhanahu Wa Ta`ala dan mengajak kaumnya menyembah Allah Subhanahu Wa Ta`ala. Lalu mereka memukul tanduknya yang kanan hingga mati. Kemudian Allah Subhanahu Wa Ta`ala menghidupkannya lagi, dan dia kembali mengajak kaumnya mengesakan Allah Subhanahu Wa Ta`ala. Tetapi mereka malah memukul tanduknya yang kiri hingga mati lagi. Lalu Allah menghidupkannya lagi dan menganugrahinya kekuasaan yang tak tertandingi. Oleh karena itu ia dijuluki Zulkarnain.

Di samping kedua kitab tersebut, Mufassir Muslim Ibnu Jarir Ath-Thabari juga mengisahkannya dalam kitab tafsir Ath-Thabari. Dikatakan, Iskandar Zulkarnain adalah seorang laki-laki yang berasal dari Romawi, ia anak tunggal seorang yang paling miskin diantara penduduk kota. Namun dalam pergaulan sehari-hari, ia hidup dalam lingkungan kerajaan, bergaul dengan para perwira dan berkawan dengan wanita-wanita yang baik dan berbudi serta berakhlak mulia.

Imam Al-Qurtubi dalam kitab tafsir Al-Qur’annya yang populer, Tafsir Al-Qurtubi,menceritakan, sejak masih kecil dan masa pertumbuhannya Iskandar berakhlak mulia. Melakukan hal-hal yang baik sehingga terangkat nama baiknya. Ia juga menjadi mulia di kalangan kaumnya, sehingga Allah berkenan memberinya kewibawaan.

Setelah mencapai usia akil balig, Iskandar menjadi seorang hamba yang saleh, sehingga Allah Subhanahu Wa Ta`ala Berfirman, “Wahai Zulkarnain, Sesungguhnya aku mengutusmu kepada umat-umat di bumi. Mereka adalah umat yang berbeda-beda bahasanya dan mereka adalah umat yang berada disegala penjuru bumi.

Mereka terbagi dalam beberapa golongan.” Mendapat amanat tersebut, Zulkarnain lalu berkata, “Wahai Tuhanku, Engkau telah menugasiku melakukan seuatu hal yang aku tidak kuasa melakukannya kecuali engkau sendiri, maka beritahukan kepadaku tentang umat-umat itu, dengan kekuatan apa aku bisa melawan mereka? Dengan kesabaran apa aku bisa menahan mereka? Dan dengan bahasa apa aku harus bicara dengan mereka? Bagaimana pula aku bisa memahami bahasa mereka sedangkan aku tidak mempunyai kemampuan.”

Kemudian Allah Subhanahu Wa Ta`ala berfirman”Aku membebanimu sesuatu yang kamu mampu melakukannya, aku akan melapangkan pendengaran dan dadamu hingga kamu bisa mendengar dan memperhatikan segala sesuatu. Memudahkan pemahamanmu sehingga kamu bisa memahami segala sesuatu, meudahkan lidahmu, hingga kamu bisa berbicara tentang sesuatu, membukakan penglihatanmu, sehingga kamu bisa melihat segala sesuatu, melipatgandakan kekuatanmu hingga tak terkalahkan oleh sesuatu apapun, menyingsingkan lenganmu, hingga tidak ada sesuatupun yang berani meyerangmu, menguatkan hatimu, hingga kamu tidak takut pada apapun, menguatkan kedua tanganmu hingga kamu bisa menguasai segala sesuatu, menguatkan pijakanmu hingga kamu bisa mengatasi segala sesuatu, memberimu kemuliaan hingga tidak ada apapun yang menakutimu, menundukkan untukmu cahaya dan kegelapan dan menjadikan salah satu tentaramu. Cahaya itu akan menjadi petunjuk di depanmu, dan kegelapan itu akan berkeliling di belakangmu.”

Jumat, 21 Maret 2014

Asal Usul Ilmu Feng Shui

Asal Usul Ilmu Feng Shui

Berbicara soal asal usul Feng Shui / Hong Sui (seterusnya akan ditulis: Hong Sui), tak bisa tidak, haruslah membicarakan I Ching (Ya Keng) terlebih dahulu. Karena Hong Sui merupakan bagian yang tak bisa dipisahkan dari I Ching / Ya Keng, yaitu sebuah Kitab Kuno China yang sangat termashyur, yang berisi tentang pelajaran Hakekat Perubahan dan dewasa ini telah banyak dialihbahasakan ke berbagai bahasa mancanegara.

Kombinasi Pergerakan Pa Kua / Pat Kwa (Delapan Trigram), Perpaduan Yin & Yang serta transformasi Wu Xing / Ngo Heng (Lima Elemen) merupakan komponen inti yang dipakai dan dikembangkan sedemikian rupa untuk bisa mendalami filsafat I Ching / Ya Keng dan semua komponennya itulah yang juga menjadi bagian mendasar perhitungan Hong Sui.

Kitab Perubahan (I Ching/Ya Keng) merupakan salah satu kitab kuno China yang mengungkapkan tentang prinsip kebenaran tentang perubahan yang mencakup aspek perubahan alam dengan segala isinya, termasuk manusia tentunya..

I Ching / Ya Keng adalah karya klasik China yang paling kuno dan terkenal, dimuliakan selama ribuan tahun sebagai tuntunan keberhasilan dan sumber kebijakan. Hampir semua filsafat kehidupan China berakar dari kitab ini. Sebut saja, hakekat kegaiban pragmatis Tao Te Ching (Tao Tek Keng), kemanusiaan rasional Confucuis, dan strategi analitis dari seni berperang Sun Tzu bersumber utama dari Kitab Perubahan (I Ching/Ya Keng) ini.

Konsep dasar I Ching / Ya Keng dikembangkan lebih dari 4900 tahun yang lalu oleh Raja Fu Xi / Baginda Hok Hie (2953 SM – 2838 SM) yang karena pengamatannya yang cermat dan seksama terhadap segala perubahan alam & bentuk-bentuk kehidupan termasuk setiap gerakan tubuh, menyimpulkan bahwa semua pergerakan / perubahan di alam semesta dengan segala isinya berubah mengikuti hukum kehidupan ( Hukum Alam / Li ).

Dari hasil pengamatan & penelitiannya, – terutama setelah Fu Xi melihat ukiran peta di punggung Kuda Naga yang muncul dari Sungai Kuning – kemudian ditemukanlah konsep Delapan Trigram (Pa Kua / Pat Kwa) yang kemudian dikenal dengan Sien Thien Pa Kua / Sian Thian Pat Kwa atau PETA SURGAWI (Pat-kwa Awal). Sesuai dengan sebutannya, awalnya Pat-kwa ini lebih cenderung dipakai sebagai alat untuk menghitung / memprediksikan perubahan dan fenomena yang terjadi di alam ini.

Trigram ini kemudian dibukukan oleh Pangeran Wen Wang / Bun Ong ( yang kemudian menjadi pendiri Dinasti Chou / Chiu ,1150-249 SM ) yang menyusunnya dalam bentuk Ho Thien Pa Kua / Ho Thian Pat Kwa atau PETA MANUSIAWI (Pat-kwa Lanjutan), lengkap dengan 64 Heragram ( 64 Permutasi )nya. Kuta-kura raksasa hitam yang muncul di Sungai Lo dengan angka ajaib di punggungnya – yang kemudian dikenal sebagai Peta Lo Shu – adalah sumber inspirasi utama yang mempengaruhi konsep PETA MANUSIAWI., maka dimulailah era dimana Pat-kwa dipakai sebagai alat memprediksi perubahan tingkah pola kehidupan manusia.

Selanjutnya Khong Fu Zi / Khong Hu Cu (551-479 SM) menyempurnakan isi Kitab I Ching / Ya Keng ini dengan menambahkan Sepuluh Sayap I Cing / Ya Keng sebagai tafsir penjelasan dan mengembangkannya secara khusus sebagai sumber penghayatan hidup dan pendalaman kespiritualan ( moralitas dan kebijaksanaan ).

Kaisar Qin Shi Huang Ti / Chin Se Hong Te (221-206 SM), pendiri Dinasti Qin / Chiu, yang berkuasa dengan singkat (hanya 13 tahun), tapi merupakan Kaisar lalim yang berkuasa dengan tangan besi, berhasil menyatukan China kembali setelah porak poranda karena perang campuh di akhir Dinasti Chou / Chiu. Kaisar inilah yang meninggalkan karya sejarah spektakuler, berupa dua buah keajaiban dunia, yaitu Tembok Besar China ( Great Wall ) dan Terracota. Karena kelalimannya, kaisar ini pun memerintahkan untuk memusnahkan semua kitab-kitab yang tidak sesuai dengan misi kekaisaran Qin / Chin. I Ching / Ya Keng termasuk salah satu dari sedikit kitab yang berhasil diselamatkan
.
Di jaman dinasti Han ( dinasti yang berkuasa setelah Qin / Chin runtuh ) tercapai suatu pemerintahan yang rapih & tertib, semuanya teratur dengan baik. Di jaman ini I Ching / Ya Keng dikembangluaskan dan dipandang sebagai buku etika & metafisika disamping juga sebagai buku ramalan. Ajaran Khong Hu Cu pun naik daun bahkan dijadikan sebagai agama resmi negara dengan Lima Kitab Pegangan (Wu Ching / Ngo Heng) dimana salah satunya adalah I Ching / Ya Keng.

Di jaman kejayaan Dinasti Han inilah, dibangun perlintasan Jalur Sutra yang sangat ramai dipakai sebagai jalur lalu lintas darat waktu itu, sebuah jalur untuk perdagangan luar negeri, yang menghubungkan China , India, Turki bahkan sampai ke Afganistan (makanya di Afganistan, yang praktis muslim, sempat ada 2 buah Patung Buddha nomor 2 tertinggi didunia, yang di hancurkan oleh Penguasa Taliban pada dasawarsa yang lalu).

Jalur Sutra ini pulalah yang dipakai oleh para Bhikku / Bhiksu dari India masuk ke Daratan China membawa dan memperkenalkan Agama Buddha ke China, yang akhirnya agama ini membaur dengan agama pribumi di China yaitu agama Tao dan Khong Hu Cu , kemudian berkembang kembali keluar dari China sebagai agama Chinese Buddhism ( agama Hoa Kao / agama Sam Kao, yang di Indonesia lebih dikenal sebagai agama Kelenteng ) , dibawa oleh para Hoa-jiao / Hoa-kiao ( kaum Tiong-hoa perantauan ).

Selama Dinasti Han, I Ching / Ya Keng dikembangkan secara resmi dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kurikulum pendidikan waktu itu, bahkan dijadikan sebagai pelajaran wajib yang harus dikuasai oleh para Siu-cai ( Sarjana, red ) saat mengikuti ujian tingkat nasional kala itu. Kemudian berkembang jugalah I Ching / Ya Keng versi Buddhis dan Taoisme. Perpaduan pengembangan ini akhirnya menghasilkan teks standar I Ching / Ya Keng. Teks standar inilah akhirnya dijadikan standar para ilmuwan dunia dalam menelaah dan mempelajari I Ching / Ya Keng. Teks standar ini pulalah yang disusun dijaman Dinasti Tang pada lebih kurang Abad ke 7 Masehi, yang akhirnya memunculkan Ilmu Hong Sui.

Pada zaman Dinasti Tang, praktek Hong Sui mulai diperkenalkan di China oleh Yang Yun Sang (sekitar 840-888 M) seorang Ahli Seni China Kuno waktu itu. Yang Yun Sang yang juga penasehat utama Kaisar Hi Tsang (888 M) – secara umum ia diakui sebagai Penemu Ilmu Hong Sui – meninggalkan warisan klasiknya berupa 3 (tiga) buah buku tentang Hong Sui. Bukunya, akhirnya selama beberapa generasi dikembangkan menjadi dasar-dasar ilmu Hong Sui, dan dikenal sebagai Hong Sui Aliran Bentuk yang mengacu pada penentuan letak Naga Hijau dan Macan Putih sebagai faktor penentu kedudukan Nafas Kosmis ( Qi / Chi / Energi Vital / Energi Pembawa Keberuntungan ).

Ketiga buku klasik yang terkenal ini, menggambarkan praktek Hong Sui dengan metode perhitungan melaui metafora keberadaan Sosok Naga (yang dipercaya kalangan Tionghoa klasik sebagai lambang keberuntungan), terdiri atas :
1. Han Lung Ching ( Seni Membangkitkan Naga )
2. Ching Nang Ao Chih ( Metode Menentukan Letak Goa Naga )
3. I Lung Ching ( Prinsip Mendekati Naga )

Selanjutnya, Wang Zhi seorang Ahli Perbintangan yang hidup di jaman Dinasti Sung (? 960 M), memperkenalkan Hong Sui Aliran Kompas yang menekankan pada pengaruh planet terhadap kualitas baik buruknya suatu tempat / lahan / lokasi / bangunan. Wang Zhi juga meninggalkan warisan klasik berupa 2 (dua) buah buku Hong Sui yang kemudian diterbitkan oleh muridnya, Ye Shui Liang, berjudul :
1. Prinsip Inti atau Pusat (Canon of the Core or Centre)
2. Diskusi tentang Pertanyaan dan Jawaban.
(Disquisitions on the Queries and Answers)

Kemudian pada akhir abad ke 19, memasuki awal abad ke 20, kedua aliran yang tadinya berjalan sendiri-sendiri ini, berhasil digabungkan menjadi satu prinsip perhitungan Hong Sui yang saling mengisi dan berkaitan. Gabungan dari Aliran Bentuk dan Aliran Kompas inilah yang akhirnya terus dianalisa, dipelajari dan diperbandingkan dari generasi ke generasi.

Pada umumnya, Aliran Bentuk memberi tekanan pada bentuk dan kontur tanah seperti wujud gunung-gunung, arah aliran sungai serta pengaruh dari letak garis Maca Naganya. Untuk mengamatinya membutuhkan pandangan intuisi yang tajam. Aliran ini menggunakan rumus perhitungan Naga Hijau dan Macan Putih sebagai tolok ukurnya. Meskipun teori simbol Naga Hijau & Macan Putih relatif mudah dipahami, tapi kenyataannya aliran ini sangat sulit dipraktekkan.

Lain halnya dengan Aliran Kompas, metodenya sulit untuk dipelajari karena mencakup Pa Kua / Pat Kwa, Yin Yang dan Lima Elemen yang terbagi dalam Sepuluh Batang Langit ( 10 Elemen Langit ) dan Dua Belas Cabang Bumi ( 12 Shio ) serta Konstelasi Perbintangan yang ditimbulkan dari posisi letak planet-planet terhadap Bumi dan Matahari. Metode perhitungannya menjadi ruwet & menjelimet, membuat perumusannya menjadi sulit untuk dipahami. Tapi, jika metode aliran ini sudah dipahami, mempraktekkannya malah lebih mudah ketimbang Aliran Bentuk, karena metode Aliran Kompas ini memiliki standar acuan yang baku dan bersifat matematis ilmiah yang bisa dijabar-uraikan secara rinci dan logis.

Namun pada perkembangannya kini, banyak juga para praktisi Hong Sui yang tergolong masuk aliran baru yang pada prakteknya hampir tidak mengacu pada kedua aliran induk diatas, yaitu Aliran Supranatural ( diistilahkan sendiri oleh penulis-red ) yang merupakan suatu aliran yang semata-mata hanya mengandalkan pada pentunjuk Sin Beng / Malaikat / Roh Halus tertentu atau Melalui Kekuatan Gaib / Mata Bathin ( Daya Linuwih ).

Praktisi Hong Sui yang tergolong dalam aliran ini biasanya dikenal sebagai paranormal. Yang unik dari pengikut aliran ini adalah di samping mereka memiliki daya limuwih, praktisi Hong Sui tersebut ada juga yang sedikit mempelajari teori Aliran Bentuk & Aliran Kompas dan kemudian menyelaraskan intuisi ke paranormalannya itu dengan akidah dari kedua aliran Hong Sui ini.

Kamis, 20 Maret 2014

Bukti Perang Nuklir Pada Jaman Mahabharata



Ada sebuah ungkapan, bahwa "hidup akan menemukan jalannya sendiri...". Seperti halnya yang terjadi di masa lampau. Kita tidak akan pernah tahu apa saja yang sudah terjadi di masa lalu. Namun melalui peninggalan-peninggalan kuno yang mulai ditemukan satu-persatu oleh para ilmuwan dan peneliti, sejarah yang terjadi ribuan tahun yang lalu pun dapat kita pelajari.

Bumi, adalah satu-satunya tempat yang kita ketahui memiliki kehidupan. Sudah begitu tua bumi ini mencatat ribuan sejarah tentang umat manusia. Melalui peradaban manusia yang terus bergulir dari jaman yang satu berganti ke jaman yang lainnya. Bumi inilah satu-satunya saksi bisu yang harus mencatat sepak terjang umat manusia di dunia ini.

Lalu, ketika umat manusia yang modern pun mulai tertarik mempelajari masa lampau. Hal ini karena terdorong oleh rasa keingintahuan mereka yang begitu besar setelah menemukan bukti-bukti nyata tentang kehidupan di masa lalu. Apalagi jika ternyata ada hal yang ganjil mereka temukan dalam bukti-bukti sejarah tersebut. Bukti-bukti yang ditemukan melalui para arkeolog yang dengan bersusah payah melakukan penggalian di tanah, penjelajahan di bawah laut, hingga penelusuran hutan-hutan sampai ke tempat-tempat yang belum pernah dijamah oleh manusia sekalipun, merupakan salah satu upaya manusia dalam menyingkap fakta tentang sejarah.

Menguak Misteri Nuklir Epos Mahabharata

Kisah Mahabharata adalah kisah yang berhasil tercatat dalam sejarah umat manusia. Dimana dalam kisah tersebut menceritakan bahwa telah terjadi konflik besar-besaran antara keturunan Pandu dan Dretarastra dalam memperebutkan tahta kerajaan. Menurut sumber mengatakan, epos ini ditulis pada tahun 1500 SM. Namun fakta sejarah yang dicatat dalam buku tersebut masanya juga lebih awal 2.000 tahun dibanding penyelesaian bukunya. Artinya peristiwa yang dicatat dalam buku ini diperkirakan terjadi pada masa ± 5.000 tahun yang silam.



Buku ini telah mencatat kehidupan dua saudara sepupu yakni Kurawa dan Pandawa yang hidup di tepian sungai Gangga meskipun akhirnya berperang di Kurukshetra. Namun yang membuat orang tidak habis berpikir adalah kenapa perang pada masa itu begitu dahsyat? Padahal jika dengan menggunakan teknologi perang tradisional, tidak mungkin bisa memiliki kekuatan yang sebegitu besarnya, hingga banyak yang berspekulasi dan dengan berani menyimpulkan bahwa perang Mahabharata adalah perang nuklir. Apa mungkin di tahun 1500 SM, ada perang nuklir dan peradaban manusia sudah sedemikian tinggi? Padahal, teknologi nuklir merupakan teknologi hi-tech yang dikerjakan oleh para ahli fisika di jaman modern. Sungguh merupakan spekulasi yang tidak masuk di akal.

Namun, sebuah penelitian yang dilakukan oleh Michael Cremo tahun 2003, seorang arkeolog senior dari AS. Selama 8 tahun, penganut agama Hindu ini meneliti narasumber dari kitab suci Weda dan Jain, yang ditulis pendeta Walmiki, ribuan tahun lalu. Cremo tertarik menginvestigasi dan mendalami dua kitab suci tersebut.

Ia menemukan nama-nama yang tertera di kitab tersebut ada di India. Ditemani tim dan rekannya, Dr. Rao, arkeolog terkemuka India, ia meneliti dengan perangkat canggih "penjejak waktu" (thermoluminenscence dating method) untuk setiap obyek yang ditemukan.

Dengan karbon radio isotop, keakuratan umur objek mampu dijejak hingga miliaran tahun ke belakang. Kitab Weda ternyata bisa menjadi nara sumber akurat, mengungkap kisah-kisah sebenarnya beribu tahun lalu. Dan membuktikan bahwa kitab itu tak semata kitab suci belaka.

Mereka pun mencoba mengupas isi kisah Mahabharata, dari awal kejadian hingga perang Bharatayudha, ditandai berakhirnya perjalanan keluarga Bharata. Mereka yang berperang, berasal dari keturunan Pandu dan Destrarata, yakni 2 bersaudara. Perang kedua bersaudara inilah yang menjadi klimaks dari kisah Mahabharata.

Dr. Rao meneliti bukti-bukti sejarah di lautan, di teluk Gujarat, untuk mengungkap bukti keberadaan Kerajaan Dwaraka. Istana Sri Krisna, otak penggalang strategis dari pihak Pandawa. Konon, kerajaan ini musnah ditelan gelombang laut tahun 1478 SM, setelah perang Bharatayudha.

Michael Cremo mengadakan penelitian di daratan, diantaranya: Indraprasta, Hastinapura, dan padang Kurukshetra, bekas perang itu terjadi. Seperti diketahui, Indraprasta merupakan tempat bermukim keluarga Pandawa di awal perjuangan merebut Hastina. Kurukshetra adalah bekas pertempuran dahsyat keluarga Bharata.

Para ahli menemukan banyak bukti yang mengejutkan. Tanah tegalan luas itu ternyata tak ditumbuhi tanaman apa pun, karena tercemar radio aktif. Pada puing-puing bangunan atau sisa-sisa tengkorak manusia yang ditemukan di Mohenjo-Daro juga tercemar residu radio aktif yang cukup pekat. Pada kerangka-kerangka tersebut terdapat sisa radioaktif yang tinggi, sama dengan yang dijumpai di Hiroshima dan Nagasaki.

Mohenjo-Daro

Perlu diketahui, Mohenjo-Daro merupakan salah satu kota peninggalan pada masa Atlantis. Atlantis memiliki wilayah mulai dari Mediteranian hingga pegunungan Andes di seberang Samudra Atlantis sedangkan Dinasti Rama berkuasa di bagian Utara India-Pakistan-Tibet hingga Asia Tengah. Peninggalan Prasasti di Indus, Mohenjo Daroo dan Easter Island (Pasifik Selatan) hingga kini belum bisa diterjemahkan dan para ahli memperkirakan peradaban itu berasal jauh lebih tua dari peradaban tertua yang selama ini diyakini manusia (4000 SM). Beberapa naskah Weda dan Jain yang antara lain mengenai Ramayana dan Mahabharata ternyata memuat bukti historis maupun gambaran teknologi dari Dinasti Rama yang diyakini pernah mengalami zaman keemasan dengan tujuh kota utamanya ‘Seven Rishi City’ yang salah satunya adalah Mohenjo-Daro (Pakistan Utara)

Menurut Dr.Indrajit, ahli termonuklir, hal ini terjadi diduga akibat radiasi ledakan termonuklir skala besar dalam peperangan tersebut. Jelasnya terdapat dalam kalimat Weda yang diterjemahkan bebas seperti ini, "Arjuna dengan gagah berani duduk dalam Weimana (sebuah benda mirip pesawat terbang) dan mendarat di tengah air, lalu meluncurkan Gendewa, semacam senjata yang mirip rudal/roket yang dapat menimbulkan sekaligus melepaskan nyala api yang gencar di atas wilayah musuh, lalu dalam sekejap bumi bergetar hebat, asap tebal membumbung tinggi diatas cakrawala, dalam detik itu juga akibat kekuatan ledakan yang ditimbulkan dengan segera menghancurkan dan menghanguskan semua apa saja yang ada disitu"

Semua yang tertulis dalam kalimat Weda tersebut merupakan gambaran yang jelas dari sebuah ledakan nuklir.

"Saat panah (apakah roket atau senjata laser?) meledak, suaranya bagaikan halilintar, membuat prajurit musuh berjatuhan bagaikan batang pohon yang terbakar hangus. Akibat yang ditimbulkan oleh senjata Arjuna tersebut, tercipta badai api, diikuti ledakan dahsyat yang memancarkan debu beracun (apakah radio aktif?)."

Yang membuat orang tidak habis pikir, sebenarnya senjata semacam apakah yang dilepaskan Arjuna dengan Weimana-nya itu?



Beberapa Seloka dalam kitab Weda dan Jain secara eksplisit dan lengkap menggambarkan bentuk dari ‘wahana terbang’ yang disebut ‘Vimana’ yang ciri-cirinya mirip piring terbang masa kini. Dari hasil riset dan penelitian yang dilakukan ditepian sungai Gangga di India, para arkeolog menemukan banyak sekali sisa-sisa puing-puing yang telah menjadi batu hangus di atas hulu sungai. Batu yang besar-besar pada reruntuhan ini dilekatkan jadi satu, permukaannya menonjol dan cekung tidak merata. Jika ingin melebur bebatuan tersebut, dibutuhkan suhu paling rendah 1.800 °C. Bara api yang biasa tidak mampu mencapai suhu seperti ini, hanya pada ledakan nuklir baru bisa mencapai suhu yang demikian.

Di dalam hutan primitif di pedalaman India, orang-orang juga menemukan lebih banyak reruntuhan batu hangus. Tembok kota yang runtuh dikristalisasi, licin seperti kaca, lapisan luar perabot rumah tangga yang terbuat dari batuan didalam bangunan juga telah dikacalisasi. Selain di India, Babilon kuno, gurun sahara, dan guru Gobi di Mongolia juga telah ditemukan reruntuhan perang nuklir prasejarah. Batu kaca pada reruntuhan semuanya sama persis dengan batu kaca pada kawasan percobaan nuklir saat ini.

Bukti ilmiah peradaban Weda. Bukti-bukti arkeologis, geologis telah terungkap dari penemuan fosil-fosil maupun artefak- alat yang digunakan manusia pada masa itu telah terbukti menunjukkan bahwa peradaban manusia modern telah ada sekitar ratusan juta bahkan miliaran tahun yang lalu. Bukti-bukti tersebut pun diungkapkan oleh Dr. Michael Cremo.

Dari berbagai belahan dunia termasuk juga dari Indonesia telah dapat mengungkapkan misteri peradaban Weda tersebut secara bermakna. Laporan tersebut ditulis dalam beberapa buku yang sudah diterbitkan seperti: Forbidden Archeology, The Hidden History of Human Race, Human Devolution: A Vedic alternative to Darwin’s Theory, terbitan tahun 2003. Dalam buku tersebut akan banyak ditemukan fosil, artefak- peninggalan berupa kendi, alas kaki, alat masak dan sebagainya yang telah berusia ratusan juta tahun bahkan miliaran tahun, dibuat oleh manusia yang mempunyai peradaban maju, tidak mungkin dibuat oleh kera atau primata yang lebih rendah.

Penemuan Kota Dvaraka, Kediaman Krishna

Di antara yang paling menarik dari penemuan-penemuan arkeologi yang dibuat di India dalam beberapa tahun terakhir adalah yang dibuat di lepas pantai dan Bet Dwarka di Gujarat. Penggalian telah berlangsung sejak 1983. Ini adalah dua tempat yang terpisah 30 km satu sama lain. Dwarka berada di pantai laut Arab, dan Bet Dwarka adalah di Teluk Kutch.



Kedua tempat ini dihubungkan dengan legenda tentang Kresna yang baik. Ada banyak candi di sini, terutama yang termasuk ke dalam periode abad pertengahan.

Dinilai sebagai salah satu dari tujuh kota paling tua di negara ini, kota legendaris Dvaraka adalah tempat kediaman Lord Krishna. Hal ini diyakini bahwa akibat kerusakan dan kehancuran oleh laut, Dvaraka telah tenggelam enam kali.



Untuk memperluas dan memperdalam penelitian ini, Unicef dan NASA membantu pemotretan dengan citra lansat satelit. Dari hasil riset dan pemotretan yang difokuskan di hulu sungai Gangga, para arkeolog menemukan banyak sisa puing bangunan yang telah menjadi batu hangus. Batu besar reruntuhan ini ketika dilekatkan jadi satu, permukaannya menonjol dan cekung tidak merata. Ketika dicoba melebur bebatuan tersebut, ternyata dibutuhkan suhu minimal 1.800 derajat celcius! Batu biasa dalam keadaan normal tak mencapai suhu ini. Kecuali pada benda-benda yang terkena radiasi nuklir, baru bisa mencapai suhu yang demikian tinggi.

Di pedalaman hutan primitif India, peneliti juga menemukan lebih banyak reruntuhan batu hangus. Tembok kota yang runtuh dikristalisasi, licin seperti kaca, lapisan luar perabot rumah tangga yang terbuat dari batu dalam bangunan juga telah di-kaca-lisasi. Para peneliti heran, selain di India, batu radiasi juga ditemukan di bekas Kerajaan Babilonia Kuno, Gurun Sahara dan Gurun Gobi di Mongolia!

Inilah bukti reruntuhan perang nuklir prasejarah, derajat radiasi masih terekam meski kejadiannya ribuan tahun Sebelum Masehi. Batu kaca pada reruntuhan tersebut, semuanya sama persis dengan batu kaca pada kawasan percobaan nuklir saat ini.

Diduga kuat perang Bharatayuddha adalah perang nuklir yang terjadi antara 3000 SM – 1500 SM. Untuk meneliti lebih jauh penyebaran batu radiasi ini, para ahli nuklir PBB akan mengungkapnya dalam program khusus.



Penelitian yang dilakukan Dr. Rao di dasar laut didasarkan petunjuk Weda, bahwa Kerajaan Dvaraka ditelan laut beberapa saat setelah Bharatayuddha usai. Kerajaan Dvaraka adalah kediaman Sri Krisna, raja yang pegang kendali strategis di perang saudara ini.

Dalam kitab suci Hindu, ia merupakan jelmaan Dewa Wisnu, pemelihara perdamaian. Keberadaan Dvaraka dilakukan selama 8 tahun, dan baru jelas setelah dibantu citra satelit NASA. Dari sana ditemukan jejak kerajaan tersebut di bawah Teluk Gujarat.

Setelah ada petunjuk pasti, akhirnya Dvaraka berhasil ditemukan dalam keadaan hancur digulung gelombang Laut Arab yang cukup dahsyat. Dari hasil investigasi, banyak temuan yang berharga. Selain tembikar, ada bongkahan batu besar yang diduga benteng dan dinding istana. Batuan dipenuhi ornamen indah, lonceng kuil dari tembaga, jangkar kapal, pot bunga dari keramik, serta uang emas dan tembaga.

Penemuan logam ini memperlihatkan kepada kita, bahwa peradaban 5.000 tahun yang lalu ternyata sudah tinggi. Tak heran temuan ini mengindikasikan penggunaan senjata pemusnah massal di perang itu.

Jembatan Alengka (Rama Bridge), Bukanlah Dongeng

Pemotretan luar angkasa yang dilakukan oleh NASA telah menemukan adanya jembatan misterius yang menghubungkan Manand Island (Srilanka) dan Pamban Island (India) sepanjang 30 Km, dengan lebar sekitar 100 m, tampak pula jembatan tersebut buatan manusia dengan umur sekitar 1.750.000 tahun. Angka ini sesuai dengan sejarah Ramayana yang terjadi pada Tretha yuga. Sekarang sedang diteliti jenis bebatuannya. Jadi Ramayana itu adalah ithihasa (sejarah), bukan merupakan dongeng.



Citra dari Rama Bridge sendiri sangat mudah terlihat dari atas permukaan air laut karena letaknya yang tidak terlalu dalam, yaitu hanya tergenang sedalam kira-kira 1,2 meter (jika air laut sedang surut) dengan lebar hampir 100 m.

Ditemukannya Reaktor Nuklir Kuno di Oklo

Tahun 1972 silam, ada sebuah penemuan luar biasa yang barangkali bisa semakin memperkuat dugaan bahwa memang benar peradaban masa silam telah mengalami era Nuklir yaitu penemuan tambang Reaktor Nuklir berusia dua miliyar tahun di Oklo, Republik Gabon.





Pada tahun 1972, ada sebuah perusahaan (Perancis) yang mengimpor biji mineral uranium dari Oklo di Republik Gabon, Afrika untuk diolah. Mereka terkejut dengan penemuannya, karena biji uranium impor tersebut ternyata sudah pernah diolah dan dimanfaatkan sebelumnya serta kandungan uraniumnya dengan limbah reaktor nuklir hampir sama. Penemuan ini berhasil memikat para ilmuwan yang datang ke Oklo untuk suatu penelitian, dari hasil riset menunjukkan adanya sebuah reaktor nuklir berskala besar pada masa prasejarah, dengan kapasitas kurang lebih 500 ton biji uranium di enam wilayah, diduga dapat menghasilkan tenaga sebesar 100 ribu watt. Tambang reaktor nuklir tersebut terpelihara dengan baik, dengan lay-out yang masuk akal, dan telah beroperasi selama 500 ribu tahun lamanya.

Yang membuat orang lebih tercengang lagi ialah bahwa limbah penambangan reaktor nuklir yang dibatasi itu, tidak tersebar luas di dalam areal 40 meter di sekitar pertambangan. Kalau ditinjau dari teknik penataan reaksi nuklir yang ada, maka teknik penataan tambang reaktor itu jauh lebih hebat dari sekarang, yang sangat membuat malu ilmuwan sekarang ialah saat kita sedang pusing dalam menangani masalah limbah nuklir, manusia zaman prasejarah sudah tahu cara memanfaatkan topografi alami untuk menyimpan limbah nuklir! Luar Biasa!

Tambang uranium di Oklo itu kira-kira dibangun dua milyar tahun yang lalu setelah adanya bukti data geologi dan tidak lama setelah menjadi pertambangan maka dibangunlah sebuah reaktor nuklir ini. Mensikapi hasil riset ini maka para ilmuwan mengakui bahwa inilah sebuah reaktor nuklir kuno, yang telah mengubah buku pelajaran selama ini, serta memberikan pelajaran kepada kita tentang cara menangani limbah nuklir.

Sekaligus membuat ilmuwan mau tak mau harus mempelajari dengan serius kemungkinan eksistensi peradaban prasejarah itu, dengan kata lain bahwa reaktor nuklir ini merupakan produk masa peradaban umat manusia. Seperti diketahui, penguasaan teknologi atom oleh umat manusia baru dilakukan dalam kurun waktu beberapa puluh tahun saja, dengan adanya penemuan ini sekaligus menerangkan bahwa pada dua miliar tahun yang lampau sudah ada sebuah teknologi yang peradabannya melebihi kita sekarang ini, serta mengerti betul akan cara penggunaannya.

Peradaban Manusia Hampir Selalu Bisa Bertahan

Semua temuan arkeologis ini sesuai dengan catatan sejarah yang turun-temurun. Kita bisa mengetahui bahwa manusia juga pernah mengembangkan peradaban tinggi di India pada 5.000 tahun silam, bahkan mengetahui cara menggunakan reaktor nuklir, namun oleh karena memperebutkan kekuasaan dan kekayaan serta menggunakan dengan sewenang-wenang, sehingga mereka mengalami kehancuran.

Beginilah kalo Bom Nuklir meledak

Singkatnya segala penyelidikan diatas berusaha menyatakan bahwa umat manusia pernah maju dalam peradaban Atlantis dan Rama. Bahkan jauh sebelum 4000 SM manusia pernah memasuki abad antariksa dan teknologi nuklir. Akan tetapi zaman keemasan tersebut berakhir akibat perang nuklir yang dahsyat hingga pada masa sesudahnya, manusia sempat kembali ke zaman primitif. Masa primitif ini berakhir dengan munculnya peradaban Sumeria sekitar 4000 SM atau 6000 tahun yang lalu.

Menurut peneliti Ufology dan peneliti sejarah peradaban dunia yang kontroversial, peristiwa hampir punahnya ras manusia ini tak hanya terjadi sekali, namun berkali-kali, dan manusia selalu dapat bertahan hidup walau hanya tersisa ribuan saja dan kembali memulai peradaban baru hingga suatu saat kembali maju dan canggih.

Namun tidak sedikit pula para peneliti dan budayawan yang menyatakan bahwa kisah itu hanya sekedar mitos atau fiksi kuno belaka. Tapi setelah adanya penemuan-penemuan arkeologi yang mengarah kepada pembuktian sejarah yang sama-sama bersinergi, apa kita masih bisa bilang kalau itu hanyalah dongeng?

Tapi, perlu anda sadari, dengan adanya penemuan reaktor nuklir kuno yang membuktikan bahwa kehidupan manusia di masa lampau sudah begitu maju dari masa sekarang, serta penggunaan nuklir yang secara besar-besaran dalam perang Mahabharata hanya sekedar untuk memperebutkan kekuasaan. Disinilah kita harus bisa merenungkan diri. Apakah kehidupan kita yang sekarang, akan mengulangi sejarah yang sudah-sudah? Dimana peradaban manusia hancur karena teknologi yang dibuatnya sendiri. Jangan sampai kita mengulanginya lagi, lagi dan lagi kesalahan fatal yang pernah dilakukan di masa lalu.

Karena bisa jadi, kisah yang semula dianggap dongeng itu, adalah bagian dari sejarah yang nyata bagi peradaban ras manusia. Meskipun dalam sejarah itu, ras manusia di muka Bumi ini selalu bertahan dari kepunahan.

Sabtu, 15 Maret 2014

6 Situs Sejarah Peradaban Manusia

Keenam situs sejarah ini layak untuk Anda kunjungi, karena tempat-tempat ini menawarkan banyak wawasan tentang peradaban manusia dan sejarah lokal yang menyelimutinya. Penasaran?

Patung raksasa Genghis Khan



Genghis Khan adalah prajurit Mongol yang berhasil menaklukkan hampir setengah dari dunia dan sangat dikenal pada abad ke-13.

Dia dikenang karena kebrutalan dan kesadisannya dalam menaklukkan daerah jajahan, yang kabarnya telah menyebabkan kematian empat puluh juta orang pasa masa itu. Meski demikian, bagi bangsa Mongol, ia adalah seorang pahlawan nasional dan sekaligus simbol budaya Mongol. Kala itu, Genghis Khan juga berhasil mendirikan Kekaisaran Mongol, menghidupkan kembali Jalan Sutra, menyatukan suku-suku Mongol yang dulunya berperang dan memperkuat posisi Mongolia di peta dunia.



Pada tahun 2008, patung raksasa yang menggambarkan sosok Genghis Khan yang sedang menunggang kuda didirikan di tepi Sungai Tuul di Tsonjin Boldog, 54 km sebelah timur dari ibukota Mongolia, Ulan Bator, di mana menurut legenda, dia menemukan cambuk emas legendarisnya. Patung setinggi 40 meter itu dibungkus oleh 250 ton stainless steel yang berkilauan. Patung ini pun menghadap ke timur sebagai simbol tempat kelahiran Genghis Khan.

Lion City



Berada jauh di bawah air biru yang tenang, penyelam diajak menelusuri sebuah runtuhan kota kuno di Danau Qiandao di China. Beberapa orang masih menganggap bahwa tempat misterius ini hanya sebatas mitos semata. Namun, kota kuno yang dikenal sebagai Lion City tersebut benar-benar ada.

Qiandao adalah sebuah danau buatan yang terletak di Chun'an County, China, yang juga dikenal sebagai Thousand Island Lake. Qiandao awalnya adalah sebuah lembah yang dibuat danau untuk proyek dam Sungai Xin'an pada tahun 1959.


Kemudian pada tahun 2001, para arkeolog menemukan reruntuhan sebuah kota kuno di bawah air yang terletak di danau buatan tersebut. Sisa reruntuhan itu dikenal sebagai Shi Cheng atau Lion City, karena berada tepat di kaki Gunung Wu Shi atau juga disebut Gunung Lima Singa.

Monumen kuno Lion City dibangun lebih dari 1.300 tahun yang lalu, namun seperti yang Anda lihat di bawah ini, beberapa ukiran batu masih dalam kondisi masih utuh. Terletak pada kedalaman 26 dan 40 meter di bawah permukaan laut, sebuah perusahaan diving lokal saat ini menawarkan layanan penyelaman akhir pekan untuk menjelajahi kota kuno tersebut.










Kuil Tikus

Setiap situs bersejarah memiliki keunikannya masing-masing. Salah satu di antaranya adalah Karni Mata.


Karni Mata adalah sebuah kuil Hindu yang dibangun oleh Maharajah Ganga Singh pada awal tahun 1900. Kuil ini berada di Deshnoke, 30 km dari Bikaner, di Rajasthan, India.

Ini dibangun sebagai wujud penghormatan kepada dewi tikus. Aspek inilah yang membuat Karni Mata menjadi sangat istimewa.

Seperti dikutip dari Odditycentral, kuil ini menjadi rumah bagi lebih dari 20.000 tikus yang disucikan. Legenda di balik berdirinya kuil ini bermula dari kisah seorang wanita dari abad ke-14 bernama Karni Mata. Dia dipuja sebagai inkarnasi dari Dewi Durga oleh pengikutnya.



Kemudian suatu ketika, salah satu anak dari sukunya meninggal dan Karni berusaha untuk menghidupkannya kembali. Sayangnya, Yama (dewa kematian) mengatakan bahwa dia sudah bereinkarnasi menjadi seekor tikus.

Mendengar itu, Karni membuat kesepakatan dengan Yama, bahwa semua klannya yang meninggal akan bereinkarnasi menjadi tikus, sampai mereka siap untuk dilahirkan kembali ke dalam sukunya. Tertarik untuk mengunjunginya?



Cenote 



Cenote adalah lubang-lubang yang terbentuk secara alami akibat runtuhnya batuan kapur yang kemudian mengekspos bagian bawah tanah. Fenomena alam ini dapat ditemukan di Semenanjung Yucatan di Meksiko, yang mengandung batuan kapur berpori.

Selama jutaan tahun, curah hujan perlahan mengikis batuan kapur di gua-gua bawah tanah. Lantas, banyak dari mereka yang kemudian terisi air hujan atau air bawah tanah. Ketika atap gua runtuh, cenote baru pun lahir. Ada sekitar 7.000 cenote di Semenanjung Yucatan.

Sebagaimana dilansir amusingplanet, cenote berasal dari bahasa Maya, dzonot atau ts'onot yang berarti suci, dan kata ini memiliki arti besar bagi bangsa Maya. Selama musim kemarau panjang, cenote menjadi satu-satunya sumber mata air bagi bangsa Maya kala itu. Sebagai konsekuensinya, semua desa bangsa Maya dibangun di sekitar cenote, dalam rangka mengamankan pasokan air permanen.



Selain menjadi satu-satu sumber mata air, bangsa Maya menganggap cenote sebagai portal untuk berkomunikasi dengan para dewa. Beberapa penelitian arkeologi telah menemukan bukti adanya upacara keagamaan yang dilakukan di atau sekitar cenote, termasuk upcara pengorbanan manusia.

Kini beberapa cenote telah berubah menjadi semacam kolam renang umum. Salah satu cenote yang digunakan sebagai kolam renang umum saat ini adalah Cenote Zaci yang terletak di Valladolid. Cenote lain juga difungsikan sebagai atraksi wisata seperti Cenote San Ignacio di Chochola.

Meoto Iwa



Selain dijuluki batu kawin, Meoto Iwa juga dikenal sebagai batu suami-istri. Meoto Iwa adalah sepasang tumpukan batu kecil yang berada di laut, tepat di depan Kuil Futami Okitama-jinja di Teluk Futami, Jepang.

Menurut keyakinan penganut Shinto, kedua batu ini mewakili persatuan pencipta Kami (roh), yang kemudian dipakai untuk merayakan persatuan pria dan wanita dalam sebuah pernikahan.

Batu yang lebih besar dinamakan Izanagi. Dia disimbolkan sebagai suami, dan menjulang setinggi 9 meter dengan keliling sekitar 40 meter. Izanagi memiliki sebuah gerbang torii Shinto berukuran kecil di puncaknya. Di sebelah kanannya, terdapat sebuah batu yang berukuran lebih kecil bernama Izanami. Batu yang memiliki tinggi 3,6 meter dan keliling 9 meter ini adalah "istri" dari Izanagi.


Untuk "menikahkan" mereka, kedua batu itu dipasangi sebuah tali suci yang sering dijumpai di kuil-kuil Shinto dan tempat-tempat suci lainnya di Jepang. Tali tersebut terbuat dari batang padi yang dikepang, yang biasa disebut shimenawa. Dengan berat hampir satu ton, tali tersebut diganti secara berkala, dalam sebuah upacara khusus yang diadakan tiga kali dalam setahun, pada bulan Mei, September dan Desember.

Selama upacara tersebut berlangsung, warga desa setempat akan membuat lima tali baru yang masing-masing berdiameter 2,5 cm dan memiliki panjang 35 meter. Sampai kini, Meoto Iwa tetap dianggap sebagai tempat suci untuk pernikahan, sehingga beberapa pasangan sering datang kemari untuk berdoa agar pernikahan mereka selalu kuat dan abadi.



The Motherland Calls



Ketika selesai dibangun pada akhir tahun 1960, patung Motherland terbesar di dunia ini dibuat dari beton setinggi 85 meter dengan berat sekitar 8.000 ton. Patung ini berlokasi di Mamayev Kurgan di Volgograd (dulunya Stalingrad), Rusia.

Di sekitar bangunan ini, terdapat kompleks monumen memperingati Pertempuran Stalingrad (Agustus 1942 sampai Februari 1943). Pertempuran itu menjadi penentu kemenangan Soviet atas pasukan Axis di garda timur Perang Dunia II dan bisa disebut sebagai pertempuran paling berdarah dalam sejarah manusia.

Monumen peringatan ini dibangun antara tahun 1959 dan 1967, dan dimahkotai oleh patung alegoris raksasa di bagian atas bukit. Monumen, yang dirancang oleh pematung Yevgeny Vuchetich ini, memiliki nama lengkap "The Motherland Calls!". Namun, monumen ini juga kerap dipanggil dengan sebutan Mother Motherland, Mother Motherland Is Calling, The Motherland, atau Monumen Mamayev.

Motherland sempat dinyatakan sebagai patung terbesar di dunia pada tahun 1967. SelainYevgeny, orang yang berjasa dalam pembangunan monumen nasional Rusia ini adalah insinyur sipil Nikolai Nikitin.


























































































Minggu, 09 Maret 2014

Sejarah Tongkat Komando Soekarno

Berkali-kali Bung Karno berkata bahwa Tongkat Komando-nya tidak memiliki daya sakti, daya linuwih..”itu hanya kayu biasa yang aku gunakan sebagai bagian dari penampilanku sebagai Pemimpin dari sebuah negara besar” kata Bung Karno pada penulis Biografi-nya, Cindy Adams pada suatu saat di Istana Bogor.


Bung Karno sendiri memiliki tiga tongkat komando yang bentuknya sama, satu tongkat yang ia bawa ke luar negeri, satu tongkat untuk berhadapan dengan para Jenderalnya dan satu tongkat waktu ia berpidato. Namun kalau keadaan buru-buru dan harus pergi, yang kerap ia bawa adalah tongkat sewaktu ia berpidato.

Pernah suatu saat Presiden Kuba, Fidel Castro memegang tongkat Bung Karno dan bercanda “Apakah tongkat ini sakti seperti tongkat kepala suku Indian?” Bung Karno tertawa saja, saat itu Castro meminta peci hitam Bung Karno dan Bung Karno pake pet hijau punya-nya Castro. “Pet ini saya pakai waktu saya serang Havana dan saya jatuhkan Batista” kata Castro mengenai Pet hijaunya itu.

Apakah tongkat Bung Karno itu memiliki kesaktian? seperti Keris Diponegoro ‘Kyai Salak’ atau keris Aryo Penangsang ‘Kyai Setan Kober’ wallahu’alam . Tapi Bung Karno sakti, itu sudah jelas. Peristiwa paling menggemparkan bagi publik Indonesia adalah saat Bung Karno ditembak dari jarak dekat pada sholat Idul Adha. Tembakan itu meleset dan ini yang jadi heboh, bagaimana bisa penembaknya adalah seorang jago perang terlatih, kenapa menembak dari hanya jarak 5 meter tidak kena. Di Radio-radio saat itu saat sidang pengadilan penembak Bung Karno, terungkap saat Bung Karno membelah dirinya menjadi lima. Penembak bingung ‘mana Bung Karno’ ?

Kesaktian Bung Karno sebenarnya adalah ‘kesaktian’ tiban, ‘tiban’ adalah suatu istilah Jawa bahwa kesaktian itu tidak dipelajari. Waktu lahir Sukarno bernama Kusno, ia sakit keras kemudian diganti nama Sukarno. Setelah sehat, datanglah kakek Sukarno, Hardjodikromo datang dari Tulungagung untuk berjumpa dengan Sukarno kecil saat itu, sang Kakek melihat ada sesuatu yang lain di anak ini. Kakek Sukarno sendiri adalah seorang sakti, ia bisa menjilati bara api pada sebuah besi yang menyala. – Rupanya di lidah Sukarno ada kemampuan lebih yaitu mengobati orang, Sukarno dicoba untuk mengobati bagian yang sakit dengan menjilat-.

Kakek Sukarno, tau bahwa ini kesaktian, tapi harus diubah asal cucunya jangan hanya jadi dukun, tapi jadi seorang yang amat berguna untuk bangsanya. Hardjodikromo adalah seorang pelarian dari Jawa Tengah yang menolak sistem tanam paksa Cultuurstelsel Van Den Bosch, ia ke Tulungagung dan memulai usaha sebagai saudagar batik. Leluhur Bung Karno dari pihak Bapaknya adalah Perwira Perang Diponegoro untuk wilayah Solo. Nama leluhur Bung Karno itu Raden Mangundiwiryo yang berperang melawan Belanda, Mangundiwiryo ini adalah orang kepercayaan Raden Mas Prawirodigdoyo salah seorang Panglima Diponegoro yang membangun benteng-benteng perlawanan antara Boyolali sampai Merbabu. Setelah selesainya Perang Diponegoro, Raden Mangundiwiryo diburu oleh intel Belanda dan ia menyamar jadi rakyat biasa di sekitar Purwodadi, mungkin akar inilah yang membuat ikatan batin antara Jawa Tengah dan Bung Karno. – Seperti diketahui Jawa Tengah adalah basis utama Sukarnois terbesar di Indonesia-.

Mangundiwiryo memiliki kesaktian yaitu ‘Ucapannya bisa jadi kenyataan’ istilahnya ‘idu geni’. Rupanya ini menurun pada Bung Karno. Melihat kemampuan ‘idu geni’ Bung Karno itu, Kakeknya Hardjodikromo berpuasa siang malam agar cucunya bisa memiliki kekuatan batin, pada suatu saat Hardjodikromo bermimpi rumahnya kedatangan seorang yang amat misterius, berpakaian bangsawan Keraton Mataram dan mengatakan dengan amat pelan ‘bahwa cucumu adalah seorang Raja bukan saja di Tanah Jawa, tapi di seluruh Nusantara’. Kelak Hardjodikromo mengira bahwa itu adalah perwujudan dari Ki Juru Martani, seorang bangsawan Mataram paling cerdas.

Sejak mimpi itu, kemampuan Bung Karno menjilat dan menyembuhkan langsung hilang berganti dengan ‘kemampuan berbicara yang luar biasa hebat’.

Bung Karno sendiri -menurut buku Giebbels, salah seorang Sejarawan Belanda- sudah diramalkan akan terbunuh dengan benda-benda tajam. Untuk itulah ia amat takut dengan jarum suntik, Bung Karno sendiri agak paranoid terhadap benda-benda tajam, ketika penyakit ginjalnya amat parah, ia menolak untuk berobat ke Swiss karena disana ia pasti akan dibedah dengan pisau tajam. Ia memilih obat-obatan herbal dari Cina.

Kembali ke tongkat tadi, tongkat Bung Karno itu dibuat dari bahan kayu Pucang Kalak, Pohon Pucang itu banyak, tapi Pucang Kalak itu hanya ada di Ponorogo, pohon Pucang. Tongkat Komando Bung Karno sendiri dipakai sejak 1952, setelah peristiwa 17 Oktober 1952. -Suatu malam Bung Karno didatangi orang dengan membawa sebalok kayu Pohon Pucang Kalak yang ia potong dengan tangannya, balok itu diserahkan pada Bung Karno. ”Untuk menghadapi Para Jenderal” kata orang itu. Lalu Bung Karno menyuruh salah seorang seniman Yogyakarta untuk membuat kayu itu menjadi tongkat komando.

Sebagai tambahan dalam khasanah politik Indonesia, ‘ageman’ atau pegangan itu soal biasa. Misalnya Jenderal Sumitro, tokoh utama dalam rivaalitas dengan Ali Moertopo pada peristiwa Malari 1974, sebelum meletusnya Malari kedatangan seorang anak muda dengan pakaian dekil dan menyerahkan sebilah keris “Untuk menang Pak” kata anak muda itu.

Pak Harto sendiri punya ageman banyak yang bilang pusat kekuatan Pak Harto itu ada di Bu Tien Suharto, banyak yang bilang juga di ‘konde’ bu Tien. Tapi yang jelas Pak Harto adalah seorang pertapa, seorang ahli kebatinan tinggi, ia senang tapa kungkum di tempuran (tempuran = pertemuan dua arus kali) di Jakarta ia sering sekali bertapa di dekat Ancol tengah malam, saat tarik ulur dengan Bung Karno antara tahun 1965-1967.

-Anton DH Nugrahanto-.

Mengungkap Misteri Segitiga Bogor

Di wilayah sekitar Halimun Bogor dan sekitarnya ada benteng-benteng milik Prabu Siliwangi yang tak kelihatan, pusat kerajaan ada di Gunung Salak, sebenarnya ini sudah menjadi rahasia umum. Catatan sejarah soal Kerajaan Siliwangi pasca kehancurannya setelah diserang Kesultanan Banten pada tahun 1620-an, adalah catatan pertama kali dari Scipio yang melakukan ekspedisi sekitar tahun 1687 mencatat ada ratusan macan gembong atau harimau bertempat tinggal di sebuah bangunan dekat Kebun Raya Bogor sekarang, selain itu ditemukan rawa yang berisi badak di sekitar Sawangan, dinamakan Rawa Badak dimana di ujung Rawa Badak ditemukan juga situs parit dan bekas tembok keraton yang dijadikan sarang macan, sekarang sarang macan ini dikenal pertigaan beringin di Sawangan. Selain catatan-catatan arkeologi, ada catatan mistis tentang segitiga Bogor.

Mengungkap Misteri Segitiga Bogor

Ada tiga gunung yang dianggap angker di masa Mataram Sultan Agung, pertama Gunung Merapi, Kedua Gunung Slamet dan Ketiga Gunung Halimun, diantara ketiganya Gunung Halimun-lah yang dianggap paling angker karena memiliki misteri luar biasa. Sampai saat ini banyak peristiwa jatuhnya pesawat di sekitar segitiga Gunung Halimun-Gunung Salak-Gunung Gede.

Daya energi ketiga gunung itu ada di Istana Cipanas, sekitar gedung yang dibangun Bung Karno namanya Gedung Bentol, tempat dimana Bung Karno selalu bermeditasi sejak dia menempati Istana Merdeka di tahun 1949. Di belakang Gedung Bentol ada sumber air panas, yang merupakan energi dari Siliwangi.

Dilamarnya Puteri Dyah Pitaloka yang kecantikannya serupa bidadari dan mewariskan kecantikan yang bisa dilihat pada gadis-gadis Bandung, Cianjur dan Sumedang sekarang ini adalah rahasia ‘Wahyu Nusantara’ yang dimiliki kerajaan Pajajaran, dimana Gadjah Mada ingin memilikinya “Siapa yang menguasai Wahyu Nusantara dia akan menguasai Indonesia’, penguasaan wahyu nusantara ini menimbulkan konflik antara Hayam Wuruk yang berpendapat bahwa wahyu itu bisa diambil dengan cara Ken Arok yaitu menikahi puteri sang Raja, di satu sisi wahyu bisa diambil dengan cara menaklukkan Pajajaran dan membangun kerajaan Majapahit Barat di Pakuan.

Tanpa disengaja menurut kepercayaan banyak orang Bung Karno mengawini puteri Bandung yaitu : Inggit Garnasih yang ditengarai masih keturunan Raja Siliwangi dimana wahyu Nusantara bersemayam di tubuh Inggit Garnasih, dan Bung Karno keturunan langsung Brawijaya V mengobarkan semangat Nusantara bermula di Bandung pada rapat politik Radicale Concentratie di Bandung tahun 1922. Bandung adalah kota terakhir dimana Prabu Linggabuana menyucikan diri di danau Bandung sebelum berangkat ke Majapahit dan kelak beristirahat di Pesanggrahan Bubat dimana kemudian datang Gadjah Mada dan terjadilah insiden pembunuhan dan pembantaian besar-besaran rombongan Pajajaran.

Sisa-sisa dari Laskar Perang Bubat melarikan diri ke Gunung Salak, sementara sisa-sisa dari punggawa Siliwangi yang diserang Banten lari ke Gunung Halimun. Tempat dimana seringnya pesawat menghilang, ini mirip dengan segitiga Bermuda dan segitiga formosa.

Gunung Halimun dan Gunung salak ini mirip Gunung Lawu yang disucikan Majapahit, tak boleh ada yang melintasi diatasnya, burungpun bisa mati bila melewati satu titik tanah yang sakral.

Kamis, 06 Maret 2014

Silsilah Presiden Indonesia dan Dinasti Giri Kedaton : Sukarno, Suharto, BJ.Habibie, Gusdur, Megawati serta Susilo Bambang Yudhoyono



Berdasarkan penyelusuran Genealogy, ditemukan fakta yang menarik, yakni kesemua Salasilah Presiden RI ternyata memiliki keterkaitan keluarga denganTrah Sunan Giri (Dinasti Giri Kedaton).

Mari kita perhatikan Susur Galur berikut :

1. Sunan Giri
1.1. Sunan Dalem Wetan / Zainal Abidin

1.1.1. Sunan Prapen (Maulana Muhammad)
1.1.1.1. Sunan Kawis Guwo
1.1.1.1.1. Panembahan Giri
1.1.1.1.1.1. Nyai Anom Besari # Kyai Anom Besari
1.1.1.1.1.1.1. Ki Ageng Muhammad Besari

1.1.1.1.1.1.1.1. Nyai Ageng Basyariyah # Ki Ageng Basyariah / Raden Mas Bagus Harun
1.1.1.1.1.1.1.1.1. Nyai Muhammad Santri # Kyai Muhammad Santri
1.1.1.1.1.1.1.1.1.1. Kyai Ma’lum Buntoro
1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1. Kyai Mustaram
1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1. Nyai Ilyas
1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1. Nyai Nafiqah # KH. Hasyim Asy’ari
1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1. KH. Abdul Wahid Hasyim
1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1. KH. Abdurrahman Wahid (Gusdur)

1.1.2. Nyai Made Pandan
1.1.2.1. Ki Ageng Saba
1.1.2.1.1. Nyai Sabinah # Ki Ageng Pemanahan
1.1.2.1.1.1. Panembahan Senapati
1.1.2.1.1.1.1. Panembahan Hanyakrawati
1.1.2.1.1.1.1.1. Sultan Agung
1.1.2.1.1.1.1.1.1. Sultan Amangkurat I

1.1.2.1.1.1.1.1.1.1. Sunan Pakubuwono I
1.1.2.1.1.1.1.1.1.1.1. Sultan Amangkurat IV
1.1.2.1.1.1.1.1.1.1.1.1. Sultan Hamengkubuwono I (Kraton Jogja)

1.1.2.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1. Sultan Hamengkubuwono II
1.1.2.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1. Sultan Hamengkubuwono III

1.1.2.1.1.1.1.1.1.1.1.1.2. KGPAA Paku Alam I (Kraton Paku Alaman)

1.1.2.1.1.1.1.1.1.1.1.2. Pangeran Hario Mangkunegoro
1.1.2.1.1.1.1.1.1.1.1.2.1. KGPAA Mangkunegara I (Keraton Mangkunegara)

1.1.2.1.1.1.1.1.1.1.1.3. Sunan Pakuwono II (Keraton Surakarta)
1.1.2.1.1.1.1.1.1.1.1.3.1. Sunan Pakubuwono III
(Sumber : Sunan Giri, Pendidik yang Ahli Fiqih)



Trah Sunan Giri dan Silsilah Presiden

Melalui penyelusuran lebih mendalam, diperoleh informasi yang mengagetkan, bahwa ke-6 Presiden Republik Indonesia, ternyata berasal dari anak keturunan Sunan Giri, sebagaimana terlihat pada keterangan berikut :

1. Soekarno, adalah putera dari Raden Soekemi Sosrodiharjo. Raden Soekemi, berdasarkan buku “Ayah Bunda Ir Sukarno”, merupakan keturunan Sultan Hamengkubuwono II (1.1.2.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1)

2. Suharto, isterinya bernama Siti Hartinah yang merupakan keturunan dariKGPAA Mangkunegara I (1.1.2.1.1.1.1.1.1.1.1.2.1). Selain itu, berdasarkan buku “Jejak Perlawanan Bengawan Pejuang”, Sumitro Djojohadikusumo menulis, bahwa Soeharto pernah mengatakan memiliki kekerabatan dengan keluarga Keraton, yang diduga merupakan keturunan dariSultan Hamengkubuwono II (1.1.2.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1).

3. BJ. Habibie, Ibunya bernama R.A. Tuti Marini Puspowardojo binti Rr. Goemoek binti Raden Ngabehi Tjitrowardoyo, berasal dari keluarga Priyayi di Purworejo, yang diduga kuat merupakan keturunan dari pendiri kerajaan Mataram Islam, Panembahan Senapati (1.1.2.1.1.1.)

4. Abdurrahman Wahid (GUSDUR), terhitung sebagai keturunan ke-8 dariKi Ageng Muhammad Besari (1.1.1.1.1.1.1.)

5. Megawati Sukarnoputri, puteri Presiden Pertama Sukarno, merupakan keturunan Sultan Hamengkubuwono II (1.1.2.1.1.1.1.1.1.1.1.1.1.)

6. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), putera dari Raden Soekotjo, beliau adalah keturunan dari Nyai Ageng Ibnu Umar binti Ki Ageng Muhammad Besari (1.1.1.1.1.1.1.)

Giri Kedaton, Khilafah di bumi Nusantara

Giri Kedaton lebih mirip sebuah “Kerajaan”, yang di dalam kehidupan kesehariannya diatur dengan menggunakan hukum Syariah Islam. Berada di daerah Gresik, Jawa Timur pada sekitar abad ke-15 sampai 17. Kerajaan ini pernah berjaya sebagai Pusat Khilafah Islam, yang pengaruhnya bahkan sampai menyebar ke daerah Maluku.

Pesantren Giri Kedaton didirikan oleh Raden Paku (Sunan Giri), pada sekitar tahun 1487. Murid-murid Giri Kedaton berdatangan dari segala penjuru, bahkan dari Ternate, mereka berasal dari berbagai kalangan tidak hanya kalangan rakyat kecil, namun juga para pangeran dan bangsawan.

Giri Kedaton mengalami puncak kejayaan di bawah kepemimpinan Sunan Prapen tahun 1548-1605, saat itu Giri tidak hanya sekadar sekolah, namun juga menjadi “kerajaan” yang memiliki kekuatan pemerintahan.

Misalnya, Sunan Prapen dikisahkan menjadi pelantik Sultan Adiwijaya raja Pajang. Ia juga menjadi mediator pertemuan antara Sultan Adiwijayadengan para bupati Jawa Timur tahun 1568. Dalam pertemuan itu, para bupati Jawa Timur sepakat mengakui kekuasaan Pajang sebagai kelanjutanKesultanan Demak. Sunan Prapen juga menjadi juru damai peperangan antara Panembahan Senopati (Mataram) dengan Jayalengkara (Bupati Surabaya tahun 1588).

Tidak hanya itu, Sunan Prapen hampir selalu menjadi pelantik setiap ada raja Islam yang naik takhta di segenap penjuru Nusantara (Sumber : wikipedia.org).

Kehadiran Giri Kedaton, memberikan teladan bagi kita, bahwa penerapan syariah bukan hal yang baru di Nusantara, dan ternyata bisa bertahanselama 200 tahun. Adanya suara-suara yang menginginkan kembali diberlakukannya Syariah Islam, sesungguhnya sesuatu yang sangat wajar.

Hal tersebut setidaknya disebabkan 2 faktor, yaitu Faktor Historis(merupakan kelanjutan dari Mudzakarah Ulama se-rumpun Melayu tahun 1650, dan juga disebabkan faktor rapuhnya sistem politik yang ada sekarang, sepertiKapitalis dan Komunis.